Sisi lain dari kopi
Selepas senja meninggalkan siang. Malam menyambut dengan penuh kelelahan.
'Hari ini aku sudah bekerja keras' kata (sebut saja) Dinar.
Melepas lelah dengan secangkir kopi adalah hal yang selalu dilakukan.
Tanpa menunggu lama Dinar melangkah kecil kedapur, mencari si bubuk hitam. 'Aagh, habis ternyata'.
Dinar memutuskan untuk mengajak beberapa temannya, pergi ke sebuah warkop yang berada di tepi pantai.
Sesampainya, duduklah mereka dengan manis dan santai. Seorang pelayan mendatangi mereka dengan secarik kertas. 'Tolong kopinya 4 ya.. sama pisang goreng dua puluh ribu' . (Bukan nama asli) Jaka, sang pelayan berkata 'maaf mbak, harga pisang goreng perporsinya lima puluh ribu' sontak keempat orang melongo penuh arti. 'Ya sudah, satu porsi saja'. Jaka segera memenuhi keinginan pelanggan warkopnya.
'Kopi empat dan pisang goreng satu porsi' si Jaka kembali dengan senyuman khas pelayan. Dinar menyambut 'Trimakasih mas'
Tak ada niat menunggu lama Dinar menyeduh kopinya dan 'wueeek. Minumpan apa ini? Pahit sekali' dengan raut kesal sedikit marah. Dipanggilnya si Jaka. 'Ya ampun mas, kenapa rasa kopinya pahit sekali? Tidak ada rasa manis-manisnya'
Jaka menjawab ringan, 'Tadi mbak pesan kopi tapi tidak bilang harus pake gula'; 'ya ampun mas, masa iya minum kopi tidak ada rasa manisnya? Tolong gula'
Sempat beradu kecil dan kembali dalam suasana normal.
Menghabiskan setengah jam untuk menikmati kopi dan mencicipi pisang goreng. 'Pisang goreng seporsi lima puluh ribu, didalam piring sekecil ini' (masih bukan nama sebenarnya) kata Tia ingin menyadarkan Dinar yang terlihat ingin mencurahkan hidupnya kedalam benda mungil elektronik itu. Tidak digubris.
Kopi dan pisang goreng sudah habis dibabat. 'Ayo pulang' kata Dinar sedang yang lain bercakap-cakap pelan. 'Semuanya sembilan puluh empat ribu mbak' mendengar itu hati Dinar sedikit menciut 'ko mahal sekali mas, berapa harga kopi?' tanya Dinar ingin penjelasan serta penasaran. 'Kopinya sepuluh ribu jadi semuanya empat puluh ribu, pisang goreng lima puluh ribu, ditambah biaya parkir dua ribu permotor' jelas Jaka.
Dinar membuka isi dompet mendapati uang berwarna merah mudah bergambar dua pahlawan.
Lanjut Dinar 'kenapa harga kopi dan pisang goreng mahal sekali?'
Si Jaka berkata lirih 'Seperti itulah mbak, uangnya pun harus dibagi-bagi lagi, di bayar untuk pelayan, menyewa tempat, membeli bahan dan lain-lainnya'
'Oh begitu ya, maaf mas, saya hanya penasaran karena saya sempat kaget, kopinya di cangkir yang kecil, pisangpun sama tapi harga' tak berniat menyambung ucapannya, Dinar merasa sedikit bersalah.
'Tidak apa-apa mbak. Sudah banyak yang berkata seperti ini'
Keduanya mengakhiri percakapan dengan kesan yang baik.
Disepanjang perjalanan Dinar masih terus berfikir, ia benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Setelah berpisah dengan teman-temannya. Dinar pergi untuk mengganti pakaian tidur. Dilihat refleksi dirinya. 'Cermin apa yang salah? Kenapa aku begitu khawatir?'
Merebahkan diri diatas tempat tidur 'Kasur sahabatku, mengapa hatiku bersedih mengingat kembali ucapan Jaka?' tak sempat habis berpikir 'Tenyata hidup mereka sesulit itu? Sepertinya nilai rupiah semakin tinggi. Bagaimana ini? Mungkin esok akan ada jawabannya' gumamnya hingga lelap menjemput.
Selesai
Kupang
22 Januari 2019
Oleh:CrisaLA15
'Hari ini aku sudah bekerja keras' kata (sebut saja) Dinar.
Melepas lelah dengan secangkir kopi adalah hal yang selalu dilakukan.
Tanpa menunggu lama Dinar melangkah kecil kedapur, mencari si bubuk hitam. 'Aagh, habis ternyata'.
Dinar memutuskan untuk mengajak beberapa temannya, pergi ke sebuah warkop yang berada di tepi pantai.
Sesampainya, duduklah mereka dengan manis dan santai. Seorang pelayan mendatangi mereka dengan secarik kertas. 'Tolong kopinya 4 ya.. sama pisang goreng dua puluh ribu' . (Bukan nama asli) Jaka, sang pelayan berkata 'maaf mbak, harga pisang goreng perporsinya lima puluh ribu' sontak keempat orang melongo penuh arti. 'Ya sudah, satu porsi saja'. Jaka segera memenuhi keinginan pelanggan warkopnya.
'Kopi empat dan pisang goreng satu porsi' si Jaka kembali dengan senyuman khas pelayan. Dinar menyambut 'Trimakasih mas'
Tak ada niat menunggu lama Dinar menyeduh kopinya dan 'wueeek. Minumpan apa ini? Pahit sekali' dengan raut kesal sedikit marah. Dipanggilnya si Jaka. 'Ya ampun mas, kenapa rasa kopinya pahit sekali? Tidak ada rasa manis-manisnya'
Jaka menjawab ringan, 'Tadi mbak pesan kopi tapi tidak bilang harus pake gula'; 'ya ampun mas, masa iya minum kopi tidak ada rasa manisnya? Tolong gula'
Sempat beradu kecil dan kembali dalam suasana normal.
Menghabiskan setengah jam untuk menikmati kopi dan mencicipi pisang goreng. 'Pisang goreng seporsi lima puluh ribu, didalam piring sekecil ini' (masih bukan nama sebenarnya) kata Tia ingin menyadarkan Dinar yang terlihat ingin mencurahkan hidupnya kedalam benda mungil elektronik itu. Tidak digubris.
Kopi dan pisang goreng sudah habis dibabat. 'Ayo pulang' kata Dinar sedang yang lain bercakap-cakap pelan. 'Semuanya sembilan puluh empat ribu mbak' mendengar itu hati Dinar sedikit menciut 'ko mahal sekali mas, berapa harga kopi?' tanya Dinar ingin penjelasan serta penasaran. 'Kopinya sepuluh ribu jadi semuanya empat puluh ribu, pisang goreng lima puluh ribu, ditambah biaya parkir dua ribu permotor' jelas Jaka.
Dinar membuka isi dompet mendapati uang berwarna merah mudah bergambar dua pahlawan.
Lanjut Dinar 'kenapa harga kopi dan pisang goreng mahal sekali?'
Si Jaka berkata lirih 'Seperti itulah mbak, uangnya pun harus dibagi-bagi lagi, di bayar untuk pelayan, menyewa tempat, membeli bahan dan lain-lainnya'
'Oh begitu ya, maaf mas, saya hanya penasaran karena saya sempat kaget, kopinya di cangkir yang kecil, pisangpun sama tapi harga' tak berniat menyambung ucapannya, Dinar merasa sedikit bersalah.
'Tidak apa-apa mbak. Sudah banyak yang berkata seperti ini'
Keduanya mengakhiri percakapan dengan kesan yang baik.
Disepanjang perjalanan Dinar masih terus berfikir, ia benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Setelah berpisah dengan teman-temannya. Dinar pergi untuk mengganti pakaian tidur. Dilihat refleksi dirinya. 'Cermin apa yang salah? Kenapa aku begitu khawatir?'
Merebahkan diri diatas tempat tidur 'Kasur sahabatku, mengapa hatiku bersedih mengingat kembali ucapan Jaka?' tak sempat habis berpikir 'Tenyata hidup mereka sesulit itu? Sepertinya nilai rupiah semakin tinggi. Bagaimana ini? Mungkin esok akan ada jawabannya' gumamnya hingga lelap menjemput.
Selesai
Kupang
22 Januari 2019
Oleh:CrisaLA15
Komentar
Posting Komentar